Blogger templates

Pages

Jumat, 23 November 2012

Sumpah Bubur Kacang

    



     Gemercik hujan gerimis mengawali pagi hari yang tiada bersahabat ini. Langit putih bersih pun membingkai kawasan perumahan beringin patra, salah satu perumahan elit yang cukup megah di daerah Plaju. Ibu Rani penjual bubur kacang hijau yang biasanya hadir tepat waktu kini tak kunjung datang melintasi perumahan itu. Pak Ardi sosok orang yang paling di segani di perumahan itu merupakan salah satu langganan tetap ibu Rani. Beliau sangat menanti sekali kedatangannya. Dengan mengenakan sarung kotak-kotak merah, ditambah baju kaos putih kesayangannya, pak Ardi duduk cemas menunggu buk Rani yang belum juga datang. Berhiaskan suasana murung yang menyelimuti wajahnya, tampaknya pak Ardi kecewa berat. 

Perumahan Taman Beringin Patra
     "Kemarin ibu habis belanja di pasar pak untuk membeli keperluan membuat bubur. Tiba-tiba dari arah belakang ada mobil avanza dengan plat nomor polisi, berapa yah saya lupa, dengan sengaja menabrak ibu saya dari arah samping. Lalu ibu saya terjatuh ke kubangan air, dengan balutan darah menyelimuti kaki kanannya. Tapi untungnya, ibu masih bisa pulang rumah, meskipun berjalan dengan kaki pincang dan baju berlumur kotoran. Saya tak tega melihat ibu seperti itu. Hanya sebagian bahan-bahan jualan yang tersisa. Yah, sisa inilah yang saya jual hari ini," tutur Alika panjang lebar dengan linangan air mata. Mendengarkan cerita Alika tersebut, lantas pak ardi merasa iba melihatnya. Dia tahu kalo ibunya single parent yang berjuang mati-matian membiaya kebutuhan hidup mereka. Alika sendiri adalah korban broken home, ayahnya meninggalkan mereka berdua, dan menikah dengan wanita lain. Sampai sekarang mereka tidak tahu kabar ayahnya alika. Pak Ardi mengetahui seluk beluk kehidupan mereka, karena buk Rani sering cerita dengan pak Ardi. 

     Hujan gerimis semakin deras, langit yang berbingkai putih tadi pun semakin murung merubah bentuk wajahnya aslinya. Awan-awan hitam silih berganti datang, berkumpul dalam guratan membumbung rendah bergelombang, seakan-akan langit akan runtuh ke perumahan elit tersebut. Gerobak bubur milik buk rani dibawah ke teras rumah pak Ardi karena mau hujan deras. Beliau pun membatu Alika yang keberatan mendorong gerobak bubur tersebut. 

     Meskipun cuaca kurang bersahabat tapi mereka berdua tetap melanjutkan perbincangan tadi di teras rumah pak Ardi. Sambil bercerita, Alika menyiapkan bubur kacang hijau pesanan pak Ardi. Tangan mungilnya dengan licah meracik dan mengkolaborasikan kacang hjiau hangat dengan santan yang berada dalam gerobaknya. Lantas, Pak Ardi duluan yang melanjutkan perbincangan tadi. "Jadi Alika, bagaimana orang yang menabrak ibu kamu kemarin? Apa dia bertanggung jawab? Atau tabrak lari?" Kata pak Ardi sambil mengambil mangkok yang berisikan bubur yang telah disiapkan Alika. "Waduh, boro-boro tanggung jawab pak, malahan ibu saya di ejek nya. Dasar orang tua nggak tahu diri, nggak punya mata apa? Kalo jalan minggir. Gitu kata pengemudi tersebut. Saya mah ikhlas saja pak, toh allah nggak tidur," tutur Alika dengan nada pasrah. "Kurang ajar banget tuh pengemudi, nggak punya otak tuh dia, saya sumpahi dia kecelakaan. Mobilnya rusak berat," balas pak Ardi dengan nada marah. 

     "Glegarr!" tiba-tiba bunyi gemuruh dan petir menyertain sumpah serapah yang diucapkan pak Ardi tadi. Angin ribut pun datang merobohkan pohon-pohon di depan rumah pak Ardi. Hujan tambah deras dan kayaknya langit telah memuntahkan seluruh isinya. " Ya allah pak Ardi, jangan sumpah sembarangan gitu pak. Toh, saya dan ibu telah mengikhlaskan musibah kecelakaan kemarin," kata Alika gugup. "Astaga, saya tidak bermaksud mengucapkan sumpah tadi Alika. saya hanya terbawa emosi, saya sangat kesal dengan pengemudi yang menabrak ibu kamu," kata pak Ardi sambil memakan bubur kacang hijaunya. 

     Hujan agak reda, bubur yang dimakan pak Ardi pun hampir habis. Ketika mau dikembalikan ke Alika, mangkok bubur itu jatuh, pecah menjadi beberapa bagian. Alika pun sangat terkejut sedangkan pak Ardi memiliki firasat buruk tentang anak tunggalnya. Hatinya semakin was-was tak berimbang, detak jantungpun tak karuan dibuatnya. Anak tunggalnya bernama Arga, usianya sudah cukup dewasa, bulan kemarin baru saja mendapatkan gelar sarjana. Anaknya bandel, suka melawan pak Ardi dan ibunya, kuliahnya hampir saja dorp out, dan kelakuannya sangat bertolak belakang dengan pak Ardi. 

     "Ngiiiung, ngiiiiung, ngiiung!" Tiba-tiba bunyi sirine mobil police mendekati rumah pak Ardi. Dibelakang mobil police, terlihat mobil besar asuransi menggendeng sebuah mobil avanza yang kini bentuknya tidak karuan. Pak ardi dan alika sangat terkejut menyaksikan apa ada yang dihadapannya. Kecemasan yang dirasakan pak Ardi terjawab sudah. Seorang polisi dengan badan kekar, berbalut seragam coklat mendekati pak ardi dan mengabarkan suatu berita yang kedengarannya kurang baik. 

     "Selamat pagi pak, apakah bapak pemilik mobil avanza itu (sambil menunjuk ke arah mobil yang rusak itu), nomor plat polisinya BG 34 NG. Waktu hujan deras tadi, mobil tersebut tabarakan dengan truk batu bara di jalan kemuning timur KM 12. Pengemudinya sekarang koma di RSMH, menurut kartu identitasnya, pengemudi tersebut bernama Arga, alamatnya di rumah ini," papar bapak polisi itu menjelaskan. Singkat cerita, tiba-tiba pak Ardi jantungan dan akhirnya pingsan, jatuh diatas gerobak bubur kacang itu. Bubur kacang hijau pun tumpah ruah kemana-mana. Bahkan ada yang menempel lengket di baju pak ardi. Alika diam membisu seketika. Dia baru ingat ternyata nomor plat polisi mobil avanza yang menabrak ibunya kemarin sama persis dengan nomor plat mobil avanza yang kini tak karuan lagi bentuknya itu. (tyo) 

Karya orisinil : heru prasetio, semoga bermanfaat dan diambil hikmahnya.

0 komentar:

Posting Komentar