![]() |
| Payung yang Mengembang Ke Atas |
Hujan deras terus menerus mengguyur kota Palembang, jalan-jalan protokol kini berhiaskan genangan air yang cukup dalam. Linangan air hujan terus menerus membasahi setiap pepohonan yang ada di pinggir jalan. Tanaman yang berada di atas pagar pembatas jalan pun tak luput bermandikan air hujan.
Meskipun awan tiada henti mengeluarkan hasil kondesasinya, langkah itu tidak menyurutkan Septian untuk pergi ke toko boneka. Dengan motor y*m*ha x*on kesayangannya, Septian tetap berpacu dengan ekstra hati-hati melintasi jalan sudirman yang kini digenangi air sampai mata kaki. Jas hujan berwarna kuning pun membungkus semua tubuhnya, walhasil dia tidak basah gara-gara hujan deras. Suhunya dingin sekali, menusuk tulang, membuat tubuh Septian menggigil bak daging yang dimasukkan ke dalam lemari es. Pelan tapi pasti akhirnya Septian sampailah di depan toko boneka Admira, salah satu toko boneka paling populer di kota metropolitan ini. Bentuk toko bonekanya sangat khas sekali mirip rumah barbie berwarna pink. Warnanya tetap mencolok mata meskipun hujan deras menerjang.
| Teddy Bear Pink |
Sekedar info, Septian dan Yasmi sudah hampir lima tahun pacaran dan hari ini adalah happy aniversary hubungan percintaan mereka. Tapi sangat disayangkan, usia hubungan yang dikatakan bukan lagi seumur jagung belum menjamin kualitas pacara n mereka. Yasmi begitu marah dengan Septian karena Septian lebih sibuk dengan pekerjaannya, hampir setengah bulan Septian tidak memperhatikannya. Sedangkan Septian mempunyai maksud sendiri mengapa ia melakukan hal yang begitu bodoh itu. Di tengah perjalanan, tampaknya Septian tidak sabar memberi kejutan kepada cewek hijaber yang kini sedang menunggu di Taman Bunga, daerah kampus POM IX, dekat kolam renang Lumban tirta yang di depannya berdiri megah RS. Siloam Sriwijaya, Palembang Square Mall, dan PSx Mall.
Setelah dua puluh menit berlalu, sampailah Septian di Taman Bunga. Dilihatnya Yasmi sedang murung, duduk melamun dibawah pohon beringin yang rindang. Berbalut jilbab merah, celana jeans dan baju lengan panjang pink dengan wajah yang berkhiaskan kekecewaan mendalam. Yasmi telah lama menunggu Septian yang tak kunjung datang karena terhalang hujan besar tadi. Septian pun segera menghampiri Yasmi, tangan kanannya memegang boneka istimewa tadi. Perdebatan sengit pun terjadi. "Aak Sep emang jahat dengan neng Yasmi, kemana aak selama ini, saya kesal dengan aak, saya benci," kata Yasmi dengan nada marah ke Septian. "Maaf kan aak neng, aak emang salah," Septian meminta maaf. "Ha? Bulshit, hari ini ajah aak nggak tepat waktu. Katanya janjian jam 13.00, ini malah datangnya jam 14.00. Saya disini sendirian nunggu aak, kehujanan. Berteduh di halte itu (sambil nunjuk halte Trans Musi depan lumban tirta), dingin ak, takut ak, aak emang nggak ada perasaan, aak emang nggak ada hati," ujar Yasmi dengan nada marah. Air mata pun tak terelakan, jatuh membasahi pipinya. Septian yang terdiam kaku hanya menunduk meminta maaf dan menyesali perbuatannya. "Maaf kan aak neng, aak emang salah, aak cuma ingin memberikan ini untuk neng Yasmi," kata Septian sambil memberikan boneka tedy bear warna pink yang dibelinya tadi. "Apa? Hanya demi boneka kecil ini saya rela menunggu hampir se-jam-an di sini. Hujan-hujan seperti ini? Dasar aak ngaak ada otak, saya benci dengan aak, saya benci!" ujar Yasmi dengan kesalnya.
Emosi Yasmi kini meledak-ledak tak terkendali, boneka tedy bear pemberian Septian tadi dilemparnya jauh-jauh ketengah jalan raya dekat halte trans musi. Tanpa berpikir panjang, Septian berlarian menuju jalan raya tersebut untuk mengambil boneka tadi. Ketika boneka mau diambil, tiba-tiba mobil kijang inova dengan kecepatan tinggi menuju kearah Septian. "Braakkk!" terdengar suara tabrakan mobil. Mobil itu menabrak Septian, sedangkan boneka tedy bear tadi tepental ke pinggir jalan. Septian tak sadarkan diri, Yasmi yang berdiri dengan penuh emosi kini shock berat menyaksikan peristiwa di depan matanya. Keremunan orang datang melihat Septian, menolong Septian untuk menuju ke rumah sakit Siloam Sriwijaya. Semua tubuh Septian dibaluri darah, luka parah dan mungkin tidak tertolong lagi.
| Rumah Sakit Siloam Sriwijaya |
Ditengah kegalauan hatinya, tiba-tiba ada seorang pria mendekatinya, mengenakan baju dokter. Yups, benar sekali, dokter itu keluar dari ruang UGD. Dengan sabar dan bicara perlahan dokter pun membisikan sesuatu ke telinga Yasmi. "Maaf mbak, nyawa pacar anda tidak tertolong lagi, mungkin ini sudah takdir dari yang di atas," bisik dokter itu. Wajahnya semakin sendu, derasnya air mata kini membasahi seluruh sanu barinya, dia menangis sejadi-jadinya. "Tidaaaaaaakkk! Ya Allah, kenapa engkau mengambilnya lebih cepat, ini emang semua salah ku, aku salah ya Allah!" gumam Yasmi dalam hati. Tubuhnya tergulai lemas, pandangan matanya kabur dan dia semakin tak percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Tubuh mungilnya lunglai, pasrah dan akhirnya jatuh ke lantai tak sadarkan diri. Semua kenangan Septian sudah terkubur dalam, hanya penyesalan mendalam yang kini dia rasakan. Dengan cekatan, Yasmi segera di bawa dokter ke ruangan untuk diberi pertolongan pertama. Setengah jam kemudian akhirnya Yasmi sadarkan diri dan pulang ke rumah penuh rasa bersalah sedangkan Septian masih di otopsi dan kabarnya besok segera di makamkan, lalu malam hari ini dibawah pulang ke rumah duka.
Sesampainya di rumah, Yasmi diam seribu kata, satu orang pun nggak tahu kabar tentang Septian. Di dalam kamarnya yang penuh warna ping, Yasmi duduk termangu di tempat tidurnya sambil melepas jilbab. Masih sedih dan sesal yang melekat abadi yang dia rasakan sekarang. Tiba-tiba, dipikiran Yasmi terbesit rencana untuk mengakhiri hidupnya dengan meneguk racun nyamuk. "Lebih baik aku bunuh diri, aku harus menyusul aak Septian ke sana. Tidak ada jalan lain, aku harus mengakhiri hidupku sekarang," gumam Yasmi dalam hatinya yang sekarang diracuni pikiran setan. Yasmi segera mencari botol yang berisik racun nyamuk merek B*y**n. Racun nyambuk telah berada dalam gengaman tangannya. Ketika tutup botol mau dibuka, tiba-tiba muncul cahaya putih berkilauan dekat jendela kamarnya. Racun nyamuk pun jatuh dan tumpah ke lantai. Pandangan mata Yasmi terfokus ke cahaya putih itu, lalu muncul sosok pria mengenakan baju putih. Tidak lain tidak bukan pria itu adalah Septian, mungkin lebih tepatnya arwah Septian. Sontak Yasmi langsung memeluk Septian, meminta maaf atas semua perbuatan yang dia lakukan. Tiba-tiba suasana kamarnya menjadi hening, warna kamarnya berubah menjadi putih bersih tanpa noda. Berkatalah sosok pria itu kepadanya. "Neng Yasmi, aku sudah memaafkan semua kesalahanmu, aku cinta kamu Yasmi, jangan lupakan aku, doakan aku selalu agar menadpat naungan dari Allah SWT, jaga dirimu baik-baik, dan carilah penggantiku, aku yakin ada yang lebih baik dari ku dan jangan sekali-kali berpikiran utuk bunuh diri. Salam sayang dari aak, selamat tinggal kekasih ku dan saya tunggu di surga yang kekal abadi," kata Septian. Yasmi dan Septian pun saling berpelukan. "Ia ak, aku berjanji, akan menjadi bidadari mu di surga kelak, aku berjanji menjadi wanita soleha yang dirindukan penguhuni surga," balas Yasmi. Tubuh Septian secara perlahan menghilang, sinar putih yang menyilaukan mata tadi perlahan-lahan redup dari pandangan mata Yasmi.
"Aakkkkk!" Yasmi berteriak sejadi-jadinya. Dia terbangun dari mimpinya, dia baru sadar kalau arwah Septian masuk dalam mimpinya. Dan akhirnya, mulai dari sekarang Yasmi berjanji untuk menjadi wanita soleha yang selalu mendoakan Septian agar selamat di akhirat nanti. Esok harinya Mayat Septian pun dimakamkan, meskipun Yasmi menutupi kesedihannya, tapi rasa kehilangannya masih sangat terasa yang terpancar jelas dari raut mukanya. Kini Yasmi harus memandang kedepan, merubah payung kehidupan yang dulu mengembang ke bawah agar dapat mengembang ke atas. Menangkap semua hikmah kehidupan yang penuh sandiwara agar dijadikan pelajaran untuk kehidupan selanjutnya. Pelangi pun tersenyum lebar mengembang di bawah payung perasaan cintanya.


apa saja
BalasHapus