Blogger templates

Pages

Jumat, 23 November 2012

Payung yang Mengembang Ke Atas


Payung yang Mengembang Ke Atas

     Hujan deras terus menerus mengguyur kota Palembang, jalan-jalan protokol kini berhiaskan genangan air yang cukup dalam. Linangan air hujan terus menerus membasahi setiap pepohonan yang ada di pinggir jalan. Tanaman yang berada di atas pagar pembatas jalan pun tak luput bermandikan air hujan. 

     Meskipun awan tiada henti mengeluarkan hasil kondesasinya, langkah itu tidak menyurutkan Septian untuk pergi ke toko boneka. Dengan motor y*m*ha x*on kesayangannya, Septian tetap berpacu dengan ekstra hati-hati melintasi jalan sudirman yang kini digenangi air sampai mata kaki. Jas hujan berwarna kuning pun membungkus semua tubuhnya, walhasil dia tidak basah gara-gara hujan deras. Suhunya dingin sekali, menusuk tulang, membuat tubuh Septian menggigil bak daging yang dimasukkan ke dalam lemari es. Pelan tapi pasti akhirnya Septian sampailah di depan toko boneka Admira, salah satu toko boneka paling populer di kota metropolitan ini. Bentuk toko bonekanya sangat khas sekali mirip rumah barbie berwarna pink. Warnanya tetap mencolok mata meskipun hujan deras menerjang. 


Teddy Bear Pink
     Sesampainya di parkiran, mata Septian disambut gembira dengan tulisan merah besar OPEN yang menandakan masih bukanya toko tersebut. Bergegas Septian masuk ke dalam toko tersebut meskipun jas hujan masih menempel ditubuhnya. "Selamat datang mas, ada yang bisa saya bantu?" Tanya pelayan toko kepada Septian. "Begini mbak, saya mau beli boneka untuk pacar saya, saya ingin boneka yang sangat istimewa," balas Septian. "Oh, tenang aja mas, di sini ada boneka yang sangat istimewa, tetapi harganya istimewa juga dong," katanya membujuk. "Nggak apa mbak, biarpun harga bonekanya mahal selangit tetap saya bayar," ujar Septian. Lalu pelayan toko itu membisikan sesuatu hal tentang keistimewaan boneka itu. Boneka telah dibeli, uang sudah dibelanjakan. Ditengoknya keluar toko, dimana hujan telah reda, dan cuaca agak cerah, meskipun dingin masih menusuk kulit. Kemudian Septian bergegas menuju parkiran motor menuju taman bertemu dengan Yasmi, kekasih hatinya.

     Sekedar info, Septian dan Yasmi sudah hampir lima tahun pacaran dan hari ini adalah happy aniversary hubungan percintaan mereka. Tapi sangat disayangkan, usia hubungan yang dikatakan bukan lagi seumur jagung belum menjamin kualitas pacara n mereka. Yasmi begitu marah dengan Septian karena Septian lebih sibuk dengan pekerjaannya, hampir setengah bulan Septian tidak memperhatikannya. Sedangkan Septian mempunyai maksud sendiri mengapa ia melakukan hal yang begitu bodoh itu. Di tengah perjalanan, tampaknya Septian tidak sabar memberi kejutan kepada cewek hijaber yang kini sedang menunggu di Taman Bunga, daerah kampus POM IX, dekat kolam renang Lumban tirta yang di depannya berdiri megah RS. Siloam Sriwijaya, Palembang Square Mall, dan PSx Mall.

     Setelah dua puluh menit berlalu, sampailah Septian di Taman Bunga. Dilihatnya Yasmi sedang murung, duduk melamun dibawah pohon beringin yang rindang. Berbalut jilbab merah, celana jeans dan baju lengan panjang pink dengan wajah yang berkhiaskan kekecewaan mendalam. Yasmi telah lama menunggu Septian yang tak kunjung datang karena terhalang hujan besar tadi. Septian pun segera menghampiri Yasmi, tangan kanannya memegang boneka istimewa tadi. Perdebatan sengit pun terjadi. "Aak Sep emang jahat dengan neng Yasmi, kemana aak selama ini, saya kesal dengan aak, saya benci," kata Yasmi dengan nada marah ke Septian. "Maaf kan aak neng, aak emang salah," Septian meminta maaf. "Ha? Bulshit, hari ini ajah aak nggak tepat waktu. Katanya janjian jam 13.00, ini malah datangnya jam 14.00. Saya disini sendirian nunggu aak, kehujanan. Berteduh di halte itu (sambil nunjuk halte Trans Musi depan lumban tirta), dingin ak, takut ak, aak emang nggak ada perasaan, aak emang nggak ada hati," ujar Yasmi dengan nada marah. Air mata pun tak terelakan, jatuh membasahi pipinya. Septian yang terdiam kaku hanya menunduk meminta maaf dan menyesali perbuatannya. "Maaf kan aak neng, aak emang salah, aak cuma ingin memberikan ini untuk neng Yasmi," kata Septian sambil memberikan boneka tedy bear warna pink yang dibelinya tadi. "Apa? Hanya demi boneka kecil ini saya rela menunggu hampir se-jam-an di sini. Hujan-hujan seperti ini? Dasar aak ngaak ada otak, saya benci dengan aak, saya benci!" ujar Yasmi dengan kesalnya.

     Emosi Yasmi kini meledak-ledak tak terkendali, boneka tedy bear pemberian Septian tadi dilemparnya jauh-jauh ketengah jalan raya dekat halte trans musi. Tanpa berpikir panjang, Septian berlarian menuju jalan raya tersebut untuk mengambil boneka tadi. Ketika boneka mau diambil, tiba-tiba mobil kijang inova dengan kecepatan tinggi menuju kearah Septian. "Braakkk!" terdengar suara tabrakan mobil. Mobil itu menabrak Septian, sedangkan boneka tedy bear tadi tepental ke pinggir jalan. Septian tak sadarkan diri, Yasmi yang berdiri dengan penuh emosi kini shock berat menyaksikan peristiwa di depan matanya. Keremunan orang datang melihat Septian, menolong Septian untuk menuju ke rumah sakit Siloam Sriwijaya. Semua tubuh Septian dibaluri darah, luka parah dan mungkin tidak tertolong lagi. 

Rumah Sakit Siloam Sriwijaya
     Air mata mengalir deras dari mata Yasmi. Yasmi sangat menyesal. Boneka yang diberikan oleh Septian tadi dipunggutnya. Sedangkan, Septian segera dibawah ke UGD rumah sakit Siloam Sriwijaya. Disudut ruangan, Yasmi terduduk lesu, kecewa dengan apa yang telah dilakukannya. Boneka tedy bear warna pink pemberian Septian dipeluknya dengan erat. Tiba-tiba boneka itu mengeluarkan suara yang mengejutkan Yasmi. "I Love You Yasmi. I Will Marry You My Honney, I Will Marry You. Mau kah kau menikah dengan ku?" Kata-kata yang keluar dari boneka itu telah menjawab semua kebingungan yang dirasakannya. Dia baru sadar kalau tenyata Septian ingin memberi kejutan, tepat happy aniversary hubungan mereka yang ke lima tahun. Septian ternyata ingin melamar Yasmi. Kini hanya penyesalan mendalam yang dirasakannya. Yasmi hanya diam seribu kata, berharap Septian cepat segera sembuh dari kecelakaan maut itu. Air matanya menetes deras seakan-akan hampir habis.

     Ditengah kegalauan hatinya, tiba-tiba ada seorang pria mendekatinya, mengenakan baju dokter. Yups, benar sekali, dokter itu keluar dari ruang UGD. Dengan sabar dan bicara perlahan dokter pun membisikan sesuatu ke telinga Yasmi. "Maaf mbak, nyawa pacar anda tidak tertolong lagi, mungkin ini sudah takdir dari yang di atas," bisik dokter itu. Wajahnya semakin sendu, derasnya air mata kini membasahi seluruh sanu barinya, dia menangis sejadi-jadinya. "Tidaaaaaaakkk! Ya Allah, kenapa engkau mengambilnya lebih cepat, ini emang semua salah ku, aku salah ya Allah!" gumam Yasmi dalam hati. Tubuhnya tergulai lemas, pandangan matanya kabur dan dia semakin tak percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Tubuh mungilnya lunglai, pasrah dan akhirnya jatuh ke lantai tak sadarkan diri. Semua kenangan Septian sudah terkubur dalam, hanya penyesalan mendalam yang kini dia rasakan. Dengan cekatan, Yasmi segera di bawa dokter ke ruangan untuk diberi pertolongan pertama. Setengah jam kemudian akhirnya Yasmi sadarkan diri dan pulang ke rumah penuh rasa bersalah sedangkan Septian masih di otopsi dan kabarnya besok segera di makamkan, lalu malam hari ini dibawah pulang ke rumah duka. 

     Sesampainya di rumah, Yasmi diam seribu kata, satu orang pun nggak tahu kabar tentang Septian. Di dalam kamarnya yang penuh warna ping, Yasmi duduk termangu di tempat tidurnya sambil melepas jilbab. Masih sedih dan sesal yang melekat abadi yang dia rasakan sekarang. Tiba-tiba, dipikiran Yasmi terbesit rencana untuk mengakhiri hidupnya dengan meneguk racun nyamuk. "Lebih baik aku bunuh diri, aku harus menyusul aak Septian ke sana. Tidak ada jalan lain, aku harus mengakhiri hidupku sekarang," gumam Yasmi dalam hatinya yang sekarang diracuni pikiran setan. Yasmi segera mencari botol yang berisik racun nyamuk merek B*y**n. Racun nyambuk telah berada dalam gengaman tangannya. Ketika tutup botol mau dibuka, tiba-tiba muncul cahaya putih berkilauan dekat jendela kamarnya. Racun nyamuk pun jatuh dan tumpah ke lantai. Pandangan mata Yasmi terfokus ke cahaya putih itu, lalu muncul sosok pria mengenakan baju putih. Tidak lain tidak bukan pria itu adalah Septian, mungkin lebih tepatnya arwah Septian. Sontak Yasmi langsung memeluk Septian, meminta maaf atas semua perbuatan yang dia lakukan. Tiba-tiba suasana kamarnya menjadi hening, warna kamarnya berubah menjadi putih bersih tanpa noda. Berkatalah sosok pria itu kepadanya. "Neng Yasmi, aku sudah memaafkan semua kesalahanmu, aku cinta kamu Yasmi, jangan lupakan aku, doakan aku selalu agar menadpat naungan dari Allah SWT, jaga dirimu baik-baik, dan carilah penggantiku, aku yakin ada yang lebih baik dari ku dan jangan sekali-kali berpikiran utuk bunuh diri. Salam sayang dari aak, selamat tinggal kekasih ku dan saya tunggu di surga yang kekal abadi," kata Septian. Yasmi dan Septian pun saling berpelukan. "Ia ak, aku berjanji, akan menjadi bidadari mu di surga kelak, aku berjanji menjadi wanita soleha yang dirindukan penguhuni surga," balas Yasmi. Tubuh Septian secara perlahan menghilang, sinar putih yang menyilaukan mata tadi perlahan-lahan redup dari pandangan mata Yasmi. 

     "Aakkkkk!" Yasmi berteriak sejadi-jadinya. Dia terbangun dari mimpinya, dia baru sadar kalau arwah Septian masuk dalam mimpinya. Dan akhirnya, mulai dari sekarang Yasmi berjanji untuk menjadi wanita soleha yang selalu mendoakan Septian agar selamat di akhirat nanti. Esok harinya Mayat Septian pun dimakamkan, meskipun Yasmi menutupi kesedihannya, tapi rasa kehilangannya masih sangat terasa yang terpancar jelas dari raut mukanya. Kini Yasmi harus memandang kedepan, merubah payung kehidupan yang dulu mengembang ke bawah agar dapat mengembang ke atas. Menangkap semua hikmah kehidupan yang penuh sandiwara agar dijadikan pelajaran untuk kehidupan selanjutnya. Pelangi pun tersenyum lebar mengembang di bawah payung perasaan cintanya.







Sumpah Bubur Kacang

    



     Gemercik hujan gerimis mengawali pagi hari yang tiada bersahabat ini. Langit putih bersih pun membingkai kawasan perumahan beringin patra, salah satu perumahan elit yang cukup megah di daerah Plaju. Ibu Rani penjual bubur kacang hijau yang biasanya hadir tepat waktu kini tak kunjung datang melintasi perumahan itu. Pak Ardi sosok orang yang paling di segani di perumahan itu merupakan salah satu langganan tetap ibu Rani. Beliau sangat menanti sekali kedatangannya. Dengan mengenakan sarung kotak-kotak merah, ditambah baju kaos putih kesayangannya, pak Ardi duduk cemas menunggu buk Rani yang belum juga datang. Berhiaskan suasana murung yang menyelimuti wajahnya, tampaknya pak Ardi kecewa berat. 

Perumahan Taman Beringin Patra
     "Kemarin ibu habis belanja di pasar pak untuk membeli keperluan membuat bubur. Tiba-tiba dari arah belakang ada mobil avanza dengan plat nomor polisi, berapa yah saya lupa, dengan sengaja menabrak ibu saya dari arah samping. Lalu ibu saya terjatuh ke kubangan air, dengan balutan darah menyelimuti kaki kanannya. Tapi untungnya, ibu masih bisa pulang rumah, meskipun berjalan dengan kaki pincang dan baju berlumur kotoran. Saya tak tega melihat ibu seperti itu. Hanya sebagian bahan-bahan jualan yang tersisa. Yah, sisa inilah yang saya jual hari ini," tutur Alika panjang lebar dengan linangan air mata. Mendengarkan cerita Alika tersebut, lantas pak ardi merasa iba melihatnya. Dia tahu kalo ibunya single parent yang berjuang mati-matian membiaya kebutuhan hidup mereka. Alika sendiri adalah korban broken home, ayahnya meninggalkan mereka berdua, dan menikah dengan wanita lain. Sampai sekarang mereka tidak tahu kabar ayahnya alika. Pak Ardi mengetahui seluk beluk kehidupan mereka, karena buk Rani sering cerita dengan pak Ardi. 

     Hujan gerimis semakin deras, langit yang berbingkai putih tadi pun semakin murung merubah bentuk wajahnya aslinya. Awan-awan hitam silih berganti datang, berkumpul dalam guratan membumbung rendah bergelombang, seakan-akan langit akan runtuh ke perumahan elit tersebut. Gerobak bubur milik buk rani dibawah ke teras rumah pak Ardi karena mau hujan deras. Beliau pun membatu Alika yang keberatan mendorong gerobak bubur tersebut. 

     Meskipun cuaca kurang bersahabat tapi mereka berdua tetap melanjutkan perbincangan tadi di teras rumah pak Ardi. Sambil bercerita, Alika menyiapkan bubur kacang hijau pesanan pak Ardi. Tangan mungilnya dengan licah meracik dan mengkolaborasikan kacang hjiau hangat dengan santan yang berada dalam gerobaknya. Lantas, Pak Ardi duluan yang melanjutkan perbincangan tadi. "Jadi Alika, bagaimana orang yang menabrak ibu kamu kemarin? Apa dia bertanggung jawab? Atau tabrak lari?" Kata pak Ardi sambil mengambil mangkok yang berisikan bubur yang telah disiapkan Alika. "Waduh, boro-boro tanggung jawab pak, malahan ibu saya di ejek nya. Dasar orang tua nggak tahu diri, nggak punya mata apa? Kalo jalan minggir. Gitu kata pengemudi tersebut. Saya mah ikhlas saja pak, toh allah nggak tidur," tutur Alika dengan nada pasrah. "Kurang ajar banget tuh pengemudi, nggak punya otak tuh dia, saya sumpahi dia kecelakaan. Mobilnya rusak berat," balas pak Ardi dengan nada marah. 

     "Glegarr!" tiba-tiba bunyi gemuruh dan petir menyertain sumpah serapah yang diucapkan pak Ardi tadi. Angin ribut pun datang merobohkan pohon-pohon di depan rumah pak Ardi. Hujan tambah deras dan kayaknya langit telah memuntahkan seluruh isinya. " Ya allah pak Ardi, jangan sumpah sembarangan gitu pak. Toh, saya dan ibu telah mengikhlaskan musibah kecelakaan kemarin," kata Alika gugup. "Astaga, saya tidak bermaksud mengucapkan sumpah tadi Alika. saya hanya terbawa emosi, saya sangat kesal dengan pengemudi yang menabrak ibu kamu," kata pak Ardi sambil memakan bubur kacang hijaunya. 

     Hujan agak reda, bubur yang dimakan pak Ardi pun hampir habis. Ketika mau dikembalikan ke Alika, mangkok bubur itu jatuh, pecah menjadi beberapa bagian. Alika pun sangat terkejut sedangkan pak Ardi memiliki firasat buruk tentang anak tunggalnya. Hatinya semakin was-was tak berimbang, detak jantungpun tak karuan dibuatnya. Anak tunggalnya bernama Arga, usianya sudah cukup dewasa, bulan kemarin baru saja mendapatkan gelar sarjana. Anaknya bandel, suka melawan pak Ardi dan ibunya, kuliahnya hampir saja dorp out, dan kelakuannya sangat bertolak belakang dengan pak Ardi. 

     "Ngiiiung, ngiiiiung, ngiiung!" Tiba-tiba bunyi sirine mobil police mendekati rumah pak Ardi. Dibelakang mobil police, terlihat mobil besar asuransi menggendeng sebuah mobil avanza yang kini bentuknya tidak karuan. Pak ardi dan alika sangat terkejut menyaksikan apa ada yang dihadapannya. Kecemasan yang dirasakan pak Ardi terjawab sudah. Seorang polisi dengan badan kekar, berbalut seragam coklat mendekati pak ardi dan mengabarkan suatu berita yang kedengarannya kurang baik. 

     "Selamat pagi pak, apakah bapak pemilik mobil avanza itu (sambil menunjuk ke arah mobil yang rusak itu), nomor plat polisinya BG 34 NG. Waktu hujan deras tadi, mobil tersebut tabarakan dengan truk batu bara di jalan kemuning timur KM 12. Pengemudinya sekarang koma di RSMH, menurut kartu identitasnya, pengemudi tersebut bernama Arga, alamatnya di rumah ini," papar bapak polisi itu menjelaskan. Singkat cerita, tiba-tiba pak Ardi jantungan dan akhirnya pingsan, jatuh diatas gerobak bubur kacang itu. Bubur kacang hijau pun tumpah ruah kemana-mana. Bahkan ada yang menempel lengket di baju pak ardi. Alika diam membisu seketika. Dia baru ingat ternyata nomor plat polisi mobil avanza yang menabrak ibunya kemarin sama persis dengan nomor plat mobil avanza yang kini tak karuan lagi bentuknya itu. (tyo) 

Karya orisinil : heru prasetio, semoga bermanfaat dan diambil hikmahnya.